Monday, October 11, 2010

Berpikirlah Sejak Anda Bangun Tidur

Tidak diperlukan kondisi khusus bagi seseorang untuk memulai berpikir. Bahkan bagi orang yang baru saja bangun tidur di pagi hari pun terdapat banyak sekali hal-hal yang dapat mendorongnya berpikir.
Terpampang sebuah hari yang panjang dihadapan seseorang yang baru saja bangun dari pembaringannya di pagi hari. Sebuah hari dimana rasa capai atau kantuk seakan telah sirna. Ia siap untuk memulai harinya. Ketika berpikir akan hal ini, ia teringat sebuah firman Allah:
"Dialah yang menjadikan untukmu malam (sebagai) pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangun berusaha." (QS. Al-Furqaan, 25: 47)
Setelah membasuh muka dan mandi, ia merasa benar-benar terjaga dan berada dalam kesadarannya secara penuh. Sekarang ia siap untuk berpikir tentang berbagai persoalan yang bermanfaat untuknya. Banyak hal lain yang lebih penting untuk dipikirkan dari sekedar memikirkan makanan apa yang dipunyainya untuk sarapan pagi atau pukul berapa ia harus berangkat dari rumah. Dan pertama kali ia harus memikirkan tentang hal yang lebih penting ini.

Pertama-tama, bagaimana ia mampu bangun di pagi hari adalah sebuah keajaiban yang luar biasa. Kendatipun telah kehilangan kesadaran sama sekali sewaktu tidur, namun di keesokan harinya ia kembali lagi kepada kesadaran dan kepribadiannya. Jantungnya berdetak, ia dapat bernapas, berbicara dan melihat. Padahal di saat ia pergi tidur, tidak ada jaminan bahwa semua hal ini akan kembali seperti sediakala di pagi harinya. Tidak pula ia mengalami musibah apapun malam itu. Misalnya, kealpaan tetangga yang tinggal di sebelah rumah dapat menyebabkan kebocoran gas yang dapat meledak dan membangunkannya malam itu. Sebuah bencana alam yang dapat merenggut nyawanya dapat saja terjadi di daerah tempat tinggalnya.

Ia mungkin saja mengalami masalah dengan fisiknya. Sebagai contoh, bisa saja ia bangun tidur dengan rasa sakit yang luar biasa pada ginjal atau kepalanya. Namun tak satupun ini terjadi dan ia bangun tidur dalam keadaan selamat dan sehat. Memikirkan yang demikian mendorongnya untuk berterima kasih kepada Allah atas kasih sayang dan penjagaan yang diberikan-Nya.
Memulai hari yang baru dengan kesehatan yang prima memiliki makna bahwa Allah kembali memberikan seseorang sebuah kesempatan yang dapat dipergunakannya untuk mendapatkan keberuntungan yang lebih baik di akhirat. Ingat akan semua ini, maka sikap yang paling sesuai adalah menghabiskan waktu di hari itu dengan cara yang diridhai Allah.

Sebelum segala sesuatu yang lain, seseorang pertama kali hendaknya merencanakan dan sibuk memikirkan hal-hal semacam ini. Titik awal dalam mendapatkan keridhaan Allah adalah dengan memohon kepada Allah agar memudahkannya dalam mengatasi masalah ini. Doa Nabi Sulaiman adalah tauladan yang baik bagi orang-orang yang beriman: "Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri ni'mat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh" (QS. An-Naml, 27 : 19)

Bagaimana kelemahan manusia mendorong seseorang untuk berpikir?Tubuh manusia yang demikian lemah ketika baru saja bangun dari tidur dapat mendorong manusia untuk berpikir: setiap pagi ia harus membasuh muka dan menggosok gigi. Sadar akan hal ini, ia pun merenungkan tentang kelemahan-kelemahannya yang lain. Keharusannya untuk mandi setiap hari, penampilannya yang akan terlihat mengerikan jika tubuhnya tidak ditutupi oleh kulit ari, dan ketidakmampuannya menahan rasa kantuk, lapar dan dahaga, semuanya adalah bukti-bukti tentang kelemahan dirinya.
"Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa." (QS. Ar-Ruum, 30: 54)

Bagi orang yang telah berusia lanjut, bayangan dirinya di dalam cermin dapat memunculkan beragam pikiran dalam benaknya. Ketika menginjak usia dua dekade dari masa hidupnya, tanda-tanda proses penuaan telah terlihat di wajahya. Di usia yang ketigapuluhan, lipatan-lipatan kulit mulai kelihatan di bawah kelopak mata dan di sekitar mulutnya, kulitnya tidak lagi mulus sebagaimana sebelumnya, perubahan bentuk fisik terlihat di sebagian besar tubuhnya. Ketika memasuki usia yang semakin senja, rambutnya memutih dan tangannya menjadi rapuh.

Bagi orang yang berpikir tentang hal ini, usia senja adalah peristiwa yang paling nyata yang menunjukkan sifat fana dari kehidupan dunia dan mencegahnya dari kecintaan dan kerakusan akan dunia. Orang yang memasuki usia tua memahami bahwa detik-detik menuju kematian telah dekat. Jasadnya mengalami proses penuaan dan sedang dalam proses meninggalkan dunia ini. Tubuhnya sedikit demi sedikit mulai melemah kendatipun ruhnya tidaklah berubah menjadi tua. Sebagian besar manusia sangat terpukau oleh ketampanan atau merasa rendah dikarenakan keburukan wajah mereka semasa masih muda.

Pada umumnya, manusia yang dahulunya berwajah tampan ataupun cantik bersikap arogan, sebaliknya yang di masa lalu berwajah tidak menarik merasa rendah diri dan tidak bahagia. Proses penuaan adalah bukti nyata yang menunjukkan sifat sementara dari kecantikan atau keburukan penampilan seseorang. Sehingga dapat diterima dan masuk akal jika yang dinilai dan dibalas oleh Allah adalah akhlaq baik beserta komitmen yang diperlihatkan seseorang kepada Allah.

Setiap saat ketika menghadapi segala kelemahannya manusia berpikir bahwa satu-satunya Zat Yang Maha Sempurna dan Maha Besar serta jauh dari segala ketidaksempurnaan adalah Allah, dan iapun mengagungkan kebesaran Allah. Allah menciptakan setiap kelemahan manusia dengan sebuah tujuan ataupun makna. Termasuk dalam tujuan ini adalah agar manusia tidak terlalu cinta kepada kehidupan dunia, dan tidak terpedaya dengan segala yang mereka punyai dalam kehidupan dunia. Seseorang yang mampu memahami hal ini dengan berpikir akan mendambakan agar Allah menciptakan dirinya di akhirat kelak bebas dari segala kelemahan.

Segala kelemahan manusia mengingatkan akan satu hal yang menarik untuk direnungkan: tanaman mawar yang muncul dan tumbuh dari tanah yang hitam ternyata memiliki bau yang demikian harum. Sebaliknya, bau yang sangat tidak sedap muncul dari orang yang tidak merawat tubuhnya. Khususnya bagi mereka yang sombong dan membanggakan diri, ini adalah sesuatu yang seharusnya mereka pikirkan dan ambil pelajaran darinya.
Sumber:http://harunyahya.com/indo/artikel/002.htm

Tuesday, September 21, 2010

Di mana Tempat Tinggalmu Kelak ?

Di ujung senja yang memerah di gurun, udara masih terasa terik, dan perlahan-lahan mulai sejuk, saat menjelang datangnya malam. Lelaki itu bergegas menuju masjid. Menunaikan shalat Maghrib yang akan menjelang. Ia shalat dua rakaat. Sambil terus berdzikir, air matanya mengalir. “Di mana kelak aku berada?" ucapnya lirih. “Adakah aku akan mendapatkan tempat kemuliaan?” keluhnya.Lelaki keturunan orang yang mulia itu kaya raya. Segalanya dimilikinya. Kekayaannya tak terhitung. Melimpah. Karena ia pandai berdagang. Semua pedagang berdagang dengannya. Keuntungannya tak henti-henti. Lelaki itu benar-benar sempurna, hartanya terus bertambah. Tetapi, kala senja ia nampak bersedih, menangis, dan terus menangis. Entah mengapa ia menangis? Sejatinya lelaki itu adalah lelaki yang shaleh dan zuhud dalam hidupnya.

Lelaki itu mengerti kelak akhir kehidupannya. Ia mengetahui orang-orang yang memiliki kekayaan dan istana, segalanya tak lagi berguna. Betapa istana yang megah dan mewah itu semuanya akan pupus, di saat datangnya kematian yang harus diterimanya. Betapa akhir kehidupannya itu, manusia hanyalah menempati sebuah tempat, yang tak lebih lebarnya satu meter dan panjangnya dua meter, yang ditutup dengan papan. Itulah kehidupan alam kubur. Siapapun adanya akan mengalami hal seperti itu. Tidak ada perbedaan antara raja dengan orang miskin.

Pakaian yang indah dan halus terbuat dari sutera, menjadi tak lagi berguna, semuanya akan ditanggalkannya. Siapa saja yang mati, hanyalah menggunakan kain kapan. Itulah pakaian kebesaran yang akan digunakan orang-orang sudah mati. Raja, orang kaya, orang miskin, dan jelata, semuanya hanyalah akan menggunakan kain kafan.

Ketika hidup di dunia, si kaya menggunakan kendaraan yang paling mewah, mungkin seekor unta yang paling baik, bulunya mengkilap, gemuk dan kuat. Tetapi, saat ajal tiba, dan kendaraan yang ditumpangi, tak lain hanyalah keranda, yang tak berharga. Inilah satu-satunya kendaraan yang akan mengantarkannya ke tempat terakhir dalam hidupnya.

Tidak ada lagi kesetiaan yang akan selalu menemani. Isteri–isteri yang cantik dan setia, tak akan menemaninya. Dialam kubur ia hanya sendirian. Tanpa siapa-siapa lagi. Kesetiaan hanya dalam kehidupan dunia. Janji hanya dalam kehidupan dunia. Tidak ada seorang suami atau isteri yang betapapun sangat setianya, mau menemaninya di alam kubur. Ia hanyalah sendirian. Sendirian bersama dengan binatang-binatang yang akan menggerogoti tumbuhnya yang sudah tidak dapat melakukan apa-apa.

Lelaki itu terus bertepekur di dalam masjid. Usai shalat Isya’ tak juga beranjak dari duduknya. Terus berdzikir dan bermunajat kepada Allah Azza Wa Jalla. “Di mana aku kelak berada?” keluhnya. Ia sangat kawatir Sang Pencipta murka, dan tidak mau menerimanya, dan menempatkan dirinya di tempat yang hina. “Ya Rabb, ampunilah segala dosa dan khilafku, dan jauhkanlah aku dari fitnah dunia, serta selamatkanlah aku dari siksamu,” keluhnya.

Allah Azza Wa Jalla memberikan karunia kekayaan yang sangat melimpah kepada lelaki itu. Perdagangannya selalu untung. Tanah pertaniannya yang sangat subur, di kelola para budaknya. Makin lama makin maju, dan hartanya semakin bertambah. Tetapi, lelaki itu tak menjadi lupa dan bersenang-senang dengan kekayaan yang dimilikinya. Sikapnya tak pernah berubah. Hartanya yang melimpah tak melupakan dari taqwanya kepada Allah Azza Wa Jalla.

Maka kekayaannya itu dimanfaatkannya untuk kaum muslimin. Kekayaannya dimanfaatkan untuk membangun jalan menuju akhirat. Sehingga, kekayaan itu menjadi indah baginya, karena semakin banyak kekayaan yang dimilikinya, semakin banyak pula sedekahnya kepada fuqara’. Ia tidak sombong, dan melakukan amal dengan sembunyi-sembunyi.

Di saat malam telah tiba, beliau memikul sekarung tepung di punggungnya, keluar menembus kegelapan malam, ketika orang-orang tidur nyenyak. Beliau berkeliling ke rumah para fuqara’ yang tak suka menadahkan tangannya. Pekerjaan itu ia lakukannya, sampai ajal menjemputnya. Tak pernah henti. Mungkin sesuatu yang tak pernah dimengerti oleh siapapun. Tapi, itulah dilakukan oleh seorang yang sudah zuhud terhadap kehidupan dunia.

Tidak heran banyak orang miskin di Madinah yang hidup tanpa mengetahui dari mana jatuhnya rezeki untuk mereka itu. Setelah lelaki itu meninggal mereka tak lagi menerima rezeki itu. Barulah mereka menyadari siapakah sesungguhnya gerangan manusia dermawan itu?

Sewaktunya jenazah lelaki itu dimandikan, terlihat ada bekas hitam dipunggungnya, sehingga bertanyalah mereka yang memandikannya. “Bekas apa ini?” Lalu, diantara yang hadir menjawab, “Itu adalah bekas karung-karung tepung yang selalu dipikulnya ke seratus rumah di Madinah ini.”

Orang-orang miskin lidahnya kelu, dan hanya dapat berdoa dalam hati, ketika ribuan lelaki mengiringi jenazahnya menuju tempat terakhirnya. Semuanya bersedih. Kekayaan yang melimpah itu, tak bersisa. Lelaki itu juga membebaskan seribu budak, dan memberikan hartanya kepada mereka.

Begitulah lelaki itu. Sikapnya terhadap kehidupan dunia. Tak lagi menolehnya. Sekalipun, begitu banyak harta yang dimilikinya. Itulah cucu Baginda Rasulullah Shallahu Alaihi Wa Sallam, Zainal Abidin, yang sangat mulia. Wallahu’alam.
Oleh: Mashadi/http://www.eramuslim.com/

Wednesday, September 1, 2010

JAgalah LisaNmU

Ditulis : Abu Abdirrohman

Bismillahirrohmanirrohim

Alloh 'azza wa jalla berkata :

مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

"Tidaklah terlafadzkan suatu ucapan melainkan disisinya ada malaikat pencatat roqiib dan 'atiid"(QS. Qhof : 18)

dan Alloh 'azza wa jalla berkata :

إِنَّ رَبَّكَ لَبِالْمِرْصَادِ

"Sesungguhnya Robbmu benar-benar mengawasi"(QS. Al Fajr : 14)

Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabulloh dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad sholallohu 'alaihi was salam dan waspadalah kalian pada perkara-perkara yang diada-adakan, maka sesunguhnya perkara yang muhdats adalah bid'ah, setiap bid'ah adalah sesat dan setiap kesesatan tempatnya didalam neraka. wal 'iyadzubilah

Alloh subhanahu telah memberi nikmat lisan dimana lisan laksana sebuah pedang bermata dua. Lisan yang digunakan untukbertaqwa kepada Alloh Ta'ala seperti untuk membaca Al-Qur'an, mengajak pada yang ma'ruf dan mencegah dari yang mungkar serta menolong orang yang terdzolimi dan juga lisan juga bisa dipergunakan untuk mengikuti keinginan syaithon seperti membuat perpecahan kaum muslimin, berdusta, bersaksi palsu, ghibah, namimah, melanggar kehormatan orang lain dan ucapan-ucapan yang diharomkan Alloh Ta'ala dan RosulNya.

Alloh Subhanahu wa Ta'ala berkata :

وَلِسَانًا وَشَفَتَيْنِ

"dan lisan dan dua buah bibir"(QS. Al Balad : 9)

ketahuilah!!

Semestinya bagi setiap mukallaf untuk menjaga lisannya dari semua perkataan kecuali perkataan yangnampak adanya suatu maslahat, maka yang sunnah adalah diam dikarenakan terkadang perkataan yang mubah bisa mendorong kepada yang harom atau makruh, bahkan kebanyakan atau pada umumnya kebiasaannya demikian.

"Assalamatu laa ya'diluhaa syai'un"

"keselamatan itu tidak ada bandingannya sedikitpun"

Diriwayatkan di dalam shohih Bukhory dan Muslim dari Abu Huroiroh rodhiyallohu 'anhu tentang Nabi sholallohu 'alaihi was salam berkata : " barangsiapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhir maka hendaknya mengatakan perkataan yang baik atau diam"(al adzkar 955)

Imam Nawawi rohimahulloh berkata : hadist ini disepakati atas ke shohihannya didalamnya mengandung bahwa tidaklah semestinya seseorang berbicara kecuali apabila keberadaan pembicaraan tersebut adalah kebaikan maksudnya nampak adanya suatu maslahat baginya, dan kapan meragukan tentang kemaslahatannya maka jangan berbicara. sungguh Imam Syafi'i rohimahulloh berkata : " Apabila dia ingin bicara maka wajib baginya berfikir sebelum berbicara, maka seandainya nampak adanya suatu maslahat, berbicaralah !! dan jikalau dia ragu janganlah dia berbicara sampai nampak kemaslahatannya".(al adzkar hal.264)

Diriwayatkan didalam shohih Bukhory dan Muslim dari Abu Musa al Asy 'ary rodhiyallohu 'anhu, beliau berkata : aku bertanya pada Nabi : muslim manakah yang paling afdhol? Nabi sholallohu 'alaihi was salam berkata : "seorang muslim yang muslim lainnya selamat dari lisannya dan tangannya"(al adzkar 956)

Diriwayatkan didalam shohih Bukhory dan Muslim dari Sahl bin Sa'ad rodhiyallohu 'anhu tentang Rosululloh sholallohu 'alaihi was salam berkata : " Barangsiapa yang memelihara apa-apa yang diantara dua dagunya dan apa-apa yang diantara dua kakinya, aku jamin bagi dia syurga"(al adzkar 207).

Diriwayatkan didalam shohih Bukhory dan Muslim dari Abu Huroiroh rodhiyallohu 'anhu,bahwasannya beliau telah mendengar Nabi sholallohu 'alaihi was salam berkata : "sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan suatu kalimat tanpa dipikirkan baik dan buruknya sehinga menggelincirkan dengan kalimat tersebut kedalam neraka yang lebih jauh dari apa-apa diantara timur dan barat". dan dalam riwayat Bukhory (lebih jauh dari apa-apa antara timur) dengan tanpa menyebutkan barat.(al adzkar 958).

Dan diriwayatkan didalam shohih Bukhory dari Abu Huroiroh rodhiyallohu 'anhu tentang nabi sholallohu 'alihi was salam berkata : "sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan suatu kalimat dari keridho'an Alloh ta'ala dimana dia tidak menganggapnya berarti sama sekali, Alloh Ta'ala mengangkatnya beberapa derajat disebabkan kalimat tersebut, dan sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan suatu kalimat yang dimurkai Alloh Ta'ala dimana dia tidak menganggapnya berarti sama sekali, Alloh menurunkannya kedalam jahannam dengan sebab kalimat tersebut"(al adzkar 959)

diriwayatkan didalam kitabnya Imam Tirmidzi rohimahulloh dari Ibnu Umar rodhiyallohu 'anhuma, beliau berkata : telah berkata Rosululloh sholallohu 'alaihi was salam : " jangan kalian banyak bicara dengan selain dzikrulloh, maka sesungguhnya banyak bicara selain dzikrulloh ta'ala mengeraskan bagi hati dan sesunguhnya paling jauhnya manusia dari Alloh Ta'ala orang yang hatinya keras"(al adzkar 962)

Saudaraku...

Seringkali seseorang merasa mudah untuk menjaga dirinya dari makanan yang harom, berzina, minum khomr dan hal-hal yang dilarang oleh agama akan tetapi merasa berat untuk menjaga lisannya. Sampai-sampai kita saksikan ada orang yang dikenal dengan kezuhudannya, ibadahnya akan tetapi keluar dari mulutnya ucapan yang mendatangkan kemurkaan dari Alloh 'azza wa jalla, wal 'iyadzubillah.

Imam Nawawi rohimahulohu berkata : telah sampai kepadaku bawasannya Qois bin sa'adah dan Aktsam bin Shoifi keduanya berkumpul lalu salah satu dari keduanya mengatakan kepada temannya : berapa banyak aib yang engkau dapatkan pada anak adam? maka temannya menjawab : sangat banyak dan tidak terhingga dan yang sempat aku hitung delapan ribu aib dan aku mendapati satu sifat seandainya ini diamalkan niscaya akan tertutupi semua aib tersebut, temannya bertanya : apakah dia? temannya menjawab : menjaga lisan (al adzkar hal.266)

Nabi sholallohu 'alaihi was salam berkata : " tahanlah atasmu lisanmu dan lapangkanlah rumahmu dan tangisilah kesalahanmu"(berkata Tirmidzi hadist hasan dari Uqbah bin Amir rodhiyallohu 'anhu)

demikianlah efek yang sangat mengerikan dari bahaya lisan bagi individu, masyarakat dan umat islam. saya memohon kepada pemilik Arsy yang agung dengan perantaraan nama-namanya yang indah dan sifatNya yang sempurna agar menjagaku dari akibat lisan yang jelek, Allohlah yang memberi manfaat padaku baik ketika aku masih hidup ataupun setelah meninggal nanti, Alloh Ta'ala berkata :

يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

" Pada hari tidaklah memberi manfaat harta dan tidak pula anak kecuali orang yang datang kepada Alloh dengan hati yang selamat"(QS. Asy Syu'aaro 88-89)


Wallohu a'lam bish showab

Bangkalan 12 Romadhon 1431 H
Abu Abdirrohman Anang Al Atsary

Monday, August 23, 2010

Tiga Hal yang Harus Diwaspadai Hati

REPUBLIKA.CO.ID, Di bulan nan suci ini, sudah sepatutnya muslim menyambutnya dengan penuh suka cita dan menjauhkan diri dari kesedihan. Kesedihan, memang hadir dalam kehidupan manusia. Namun, tak perlu ada kesedihan yang berlebihan. Sebab orang beriman, sepenuhnya sadar bahwa sesuatu yang ia miliki, masalah yang ia hadapi dari dan akan kembali kepada Allah.

Firman Allah Ta’ala: ‘’Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Al-Baqoroh: 155). Selain itu, orang yang optimis selalu mengucapkan kalimah istirjaa (pernyataan kembali pada Allah) ‘’(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: ‘’Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun’’ (Al-Baqoroh: 156).

Dalam kitab Nashooihul ‘Ibad karya Syeikh Muhammad Nawawi Al-Bantani, disebutkan hadits mengenaitiga hal yang harus diwaspadai. Hal-hal yang harus diwaspadai tersebut ialah:

Pertama, hindari kesedihan di pagi hari dan mengeluhkan kesulitan hidup kepada orang lain. Mulailah menempuh pagi hari kita dengan rasa syukur dan kebahagiaan. Bersyukur karena Allah masih memberikan umur dan kesehatan. Jika mengawali pagi hari dengan kesedihan, maka hidup yang dijalani pun akan terasa berat dan sulit.

Bila seseorang terbiasa bersedih di pagi hari, berarti seakan-akan ia mengeluhkan Allah. Mengeluhkan nasib yang Allah takdirkan untuk kita. Melakukan syikayah (pengaduan) atas nasib buruk yang dialami seseorang kepada orang lain termasuk pertanda tidak ridha atas bagian yang telah Allah berikan. Seseorang hanya pantas melakukan syikayah pada Allah, bukan pada selain-Nya. Lagi pula syikayah pada Allah adalah doa.

Sungguh, Allah dekat jika kita mendekat. Sebaliknya, Allah akan jauh manakala kita pun menjauh. Doa, diucapkan dalam bahasa apa pun, jika kita ada keyakinan di hati kita pasti akan dikabulkan oleh-Nya. Hal ini ditegaskan Allah dalam surah berikut, ’’ Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.’’ (QS. Al-Mu’min: 60).

Kedua, hindari kesedihan pagi hari karena urusan duniawi. Kesedihan yang terpancar pada hamba Allah di pagi hari berarti ia tidak puas dengan ketetapan Allah. Urusan duniawi memang penting. Namun, kesulitan duniawi tak perlu terus-menerus diratapi. Allah mengisyaratkan agar seorang hamba menyeimbangkan kehidupan duniawi dan ukhrowi. Karena, kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdayakan.

’’Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.’’ (QS. Al-Qashash: 77).

Dalam ayat lain, Allah berfirman, ’’Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman dan bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu. (QS. Muhammad: 36).

Jika ditinjau dari sudut pandang psikologis, maka pakar psikologi Amerika, Dr. Dicks memberikan resep hidup bahagia yang mungkin mulai saat ini dapat diterapkan. Menurut Dr. Dicks hidup bahagia itu adalah seni keindahan yang memiliki sepuluh dimensi.

Sepuluh resep itu ialah melakukan pekerjaan yang kita cintai, memperhatikan kesehatan karena kesehatan merupakan ruh kebahagiaan, memiliki tujuan hidup, menjalani kehidupan apa adanya dan menerima dengan ikhlas segala ketetapan Tuhan, hidup hari ini dengan tidak menyesali masa lalu serta gelisah dengan masa yang akan datang, berpikir sebelum bertindak, hidup dengan memandang ke bawah (sederhana), membiasakan tersenyum dan berkawan dengan orang-orang yang optimis, berusaha membahagiakan orang lain, dan memanfaatkan kesempatan-kesempatan yang bagus sebagai jalan menuju kebahagiaan.

Ketiga, hindari menghormati seseorang karena kekayaannya. Seseorang yang menghormati seseorang karena kekayaannya, berarti sungguh lenyaplah duapertiga agamanya. Harta dan tahta kerap membutakan mata hati manusia.

Terlebih di zaman yang semakin dahsyat ini, di mana segala sesuatu hanya dipandang dari segi materi belaka. Sebagai contoh, banyak orang yang kurang mampu tak bisa berobat dengan layak lantaran mereka tidak mempunyai uang. Padahal sejatinya, tidak ada yang abadi di dunia ini. Termasuk harta kekayaan. Semua itu akan lenyap. Hanya amal jariah, anak sholeh dan ilmu yang bermanfaat yang abadi sebagai bekal di akhirat nanti.

Allah menganjurkan agar kita menghormati seseorang karena ketinggian ilmunya, bukan kekayaannya. Karena seseorang yang memiliki keluasan ilmu pengetahuan lebih mulia derajatnya di hadapan Allah ketimbang orang yang memiliki banyak harta namun kosong ilmu.

’’Allah meninggikan derajat orang yang beriman dan berilmu dengan beberapa derajat.’’ (QS. Al-Mujaadalah: 11). Bahkan, Allah menunjukkan jalan bahwa siapa yang ingin meraih kehidupan dunia, akhirat dan kedua-duanya (dunia-akhirat) hanya dengan ilmu. ’’Barang siapa yang menginginkan kehidupan dunia, hendaklah dengan ilmu. Siapa yang ingin kehidupan akhirat dengan ilmu. Dan siapa yang menginginkan keduanya (dunia-akhirat), juga dengan ilmu.’’ (HR. Bukhori dan Muslim).
sumber:hikmah-republika.co.id

Tuesday, July 27, 2010

Siapa Yang Menanam, Dia Yang akan Menuai

Segala puji itu hanyalah milik Allah. Dialah zat yang telah menyempurnakan nikmat-Nya untuk kita dan secara berturut-turut memberikan berbagai pemberian dan anugerah kepada kita.

Semoga Allah menyanjung dan memberi keselamatan untuk Nabi kita Muhammad, keluarganya yang merupakan manusia pilihan dan semua sahabatnya yang merupakan manusia-manusia yang bertakwa seiring silih bergantinya malam dan siang.

Kita pasti pernah mendengar peribahasa ini, “Siapa yang menanam, Dia yang akan menuai.” Maksudnya, jika seseorang menanam kebaikan, maka ia akan menuai kebaikan pula. Dan jika seseorang menanam kejelekan, maka ia akan menuai hasil yang jelek pula. Berikut beberapa contoh dalam Al Qur’an dan hadits yang menceritakan maksud dari peribahasa ini.

Menjaga Hak Allah, Menuai Penjagaan Allah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengajarkan pada Ibnu ‘Abbas -radhiyallahu ‘anhuma- sebuah kalimat,

“Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu.”

Yang dimaksud menjaga Allah di sini adalah menjaga batasan-batasan, hak-hak, perintah, dan larangan-larangan Allah. Yaitu seseorang menjaganya dengan melaksanakan perintah Allah, menjauhi larangan-Nya, dan tidak melampaui batas dari batasan-Nya (berupa perintah maupun larangan Allah). Orang yang melakukan seperti ini, merekalah yang menjaga diri dari batasan-batasan Allah. Yang utama untuk dijaga adalah shalat lima waktu yang wajib. Dan yang patut dijaga lagi adalah pendengaran, penglihatan dan lisan dari berbagai keharaman. Begitu pula yang mesti dijaga adalah kemaluan, yaitu meletakkannya pada yang halal saja dan bukan melalui jalan haram yaitu zina.
Barangsiapa menjaga diri dengan melakukan perintah dan menjauhi larangan, maka ia akan mendapatkan dua penjagaan.

Penjagaan pertama: Allah akan menjaga urusan dunianya yaitu ia akan mendapatkan penjagaan diri, anak, keluarga dan harta.

Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, “Barangsiapa menjaga (hak-hak) Allah, maka Allah akan menjaganya dari berbagai gangguan.” Sebagian salaf mengatakan, “Barangsiapa bertakwa pada Allah, maka Allah akan menjaga dirinya. Barangsiapa lalai dari takwa kepada Allah, maka Allah tidak ambil peduli padanya. Orang itu berarti telah menyia-nyiakan dirinya sendiri. Allah sama sekali tidak butuh padanya.”

Jika seseorang berbuat maksiat, maka ia juga dapat melihat tingkah laku yang aneh pada keluarganya bahkan pada hewan tunggangannya. Sebagaimana sebagian salaf mengatakan, “Jika aku bermaksiat pada Allah, maka pasti aku akan menemui tingkah laku yang aneh pada budakku bahkan juga pada hewan tungganganku.”[3]

Penjagaan kedua: Penjagaan yang lebih dari penjagaan pertama, yaitu Allah akan menjaga agama dan keimanannya. Allah akan menjaga dirinya dari pemikiran rancu yang bisa menyesatkan dan dari berbagai syahwat yang diharamkan.[4]

Semoga dengan menjaga hak-hak Allah, kita semua bisa menuai dua penjagaan ini.

Berlaku Jujur, Menuai Kebaikan

Dari sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud, ia menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

"Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan megantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Jika seseorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.”

Terkhusus lagi, beliau memerintahkan kejujuran ini pada pedagang karena memang kebiasaan para pedagang adalah melakukan penipuan dan menempuh segala cara demi melariskan barang dagangan.

Dari Rifa’ah, ia mengatakan bahwa ia pernah keluar bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ke tanah lapang dan melihat manusia sedang melakukan transaksi jual beli. Beliau lalu menyeru, “Wahai para pedagang!” Orang-orang pun memperhatikan seruan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sambil menengadahkan leher dan pandangan mereka pada beliau. Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya para pedagang akan dibangkitkan pada hari kiamat nanti sebagai orang-orang fajir (jahat) kecuali pedagang yang bertakwa pada Allah, berbuat baik dan berlaku jujur. ”

Berlaku jujur juga akan menuai berbagai keberkahan. Yang dimaksud keberkahan adalah tetapnya dan bertambahnya kebaikan. Dari sahabat Hakim bin Hizam, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Kedua orang penjual dan pembeli masing-masing memiliki hak pilih (khiyar) selama keduanya belum berpisah. Bila keduanya berlaku jujur dan saling terus terang, maka keduanya akan memperoleh keberkahan dalam transaksi tersebut. Sebaliknya, bila mereka berlaku dusta dan saling menutup-nutupi, niscaya akan hilanglah keberkahan bagi mereka pada transaksi itu.”

Inilah buah yang dipetik dari pedagang yang tidak berlaku jujur. Sedangkan sebaliknya jika pedagang bisa berlaku jujur, maka ia pun akan menuai berbagai kebaikan dan keberkahan.

Artikel Majalah pengusahamuslim.com dan www.muslim.or.id